Selasa, 22 Mei 2012

Laporan Mikrobiologi


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Salah satu bagian yang penting dalam mikrobiologi adalah pengetahuan tentang cara-cara mematikan, menyingkirkan, dan menghambat pertumbuhan mikroorganisme (Block, 2002). Cara yang digunakan untuk menghancurkan, menghambat pertumbuhan mikroorganisme dan menyingkirkan mikroorganisme berbeda-beda tergantung spesies yang dihadapi. Selain itu lingkungan dan tempat mikroba ini pun berbeda-beda misalnya dalam darah, makanan, air, sampah, roil, dan tanah. Hal tersebut juga dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan cara untuk menghancurkan mikroorganisme yang digunakan tergantung pada pengetahuan, keterampilan dan tujuan dari yang melaksanakannya, sebab tiap situasi yang dihadapi merupakan kenyataan-kenyataan dasar yang dapat menuntun pada cara atau prosedur yang harus dilakukan (Levine, 2000).
Tindakan untuk membebaskan alat atau media dari mikroba adalah dengan sterilisasi. Secara umum, sterilisasi dapat dilakukan dengan cara mekanik, fisik dan kimia. Teknik aseptis dibutuhkan untuk mencegah ataupun mengurangi kontaminasi yang tidak diinginkan. Mikroba memiliki karakteristik serta ciri yang berbeda dalam persyaratan pertumbuhannya. Karakteristik persyaratan pertumbuhan mikroba inilah yang menyebabkan bermacam-macamnya media penunjang pertumbuhan mikroba. Dalam melakukan kegiatan tersebut diperlukan keahlian dan keterampilan khusus. Hal inilah yang melatar belakangi dilaksanakannya praktikum ini.

1.2  Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui berbagai cara sterilisasi ruang kerja atau laboratorium dan peralatan serta cara pembuatan media pertumbuhan mikroorganisme serta mengetahui jenis-jenis media serta cara pembuatan dan sterilisasinya.

1.3  Manfaat
Setelah melakukan praktikum ini mahasiswa akan mempunyai keterampilan dalam mensterilkan peralatan, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam dunia kerja khususnya dalam laboratorium mikrobiologi.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Sterilisasi dalam mikrobiologi berarti membebaskan tiap benda atau substansi dari semua kehidupan dalam bentuk apapun. Untuk tujuan mikrobiologi dalam usaha mendapatkan keadaan steril, mikroorganisme dapat dimatikan setempat oleh panas (kalor), gas-gas seperti formaldehide, etilenoksida atau betapriolakton oleh bermacam-macam larutan kimia; oleh sinar lembayung ultra atau sinar gamma. Mikroorganisme juga dapat disingkirkan secara mekanik oleh sentrifugasi kecepatan tinggi atau oleh filtrasi  (Curtis, 1999).
Macam-macam sterilisasi (Machmud, 2008):
Pada prinsipnya sterilisasi dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu secara mekanik, fisik dan kimiawi.
1. Sterilisai secara mekanik (filtrasi) menggunakan suatu saringan yang berpori sangat kecil (0.22 mikron atau 0.45 mikron) sehingga mikroba tertahan pada saringan tersebut. Proses ini ditujukan untuk sterilisasi bahan yang peka panas, misal nya larutan enzim dan antibiotik.
2. Sterilisasi secara fisik dapat dilakukan dengan pemanasan & penyinaran.
· Pemanasan
a. Pemijaran (dengan api langsung): membakar alat pada api secara langsung, contoh alat : jarum inokulum, pinset, batang L, dll.
b. Panas kering: sterilisasi dengan oven kira-kira 60-1800C. Sterilisasi panas kering cocok untuk alat yang terbuat dari kaca misalnya erlenmeyer, tabung reaksi dll.
c. Uap air panas: konsep ini mirip dengan mengukus. Bahan yang mengandung air lebih tepat menggungakan metode ini supaya tidak terjadi dehidrasi.
d. Uap air panas bertekanan : menggunalkan autoklaf



· Penyinaran dengan UV
Sinar Ultra Violet juga dapat digunakan untuk proses sterilisasi, misalnya untuk membunuh mikroba yang menempel pada permukaan interior Safety Cabinet dengan disinari lampu UV
3. Sterilisaisi secara kimiawi biasanya menggunakan senyawa desinfektan antara lain alkohol.
Sterilisasi dengan panas adalah unit operasi dimana bahan dipanaskan dengan suhu yang cukup tinggi dan waktu yang cukup lama untuk merusak mikrobia dan aktivitas enzim. Sebagai hasilnya, bahan yang disterilkan akan memiliki daya simpan lebih dari enam bulan pada suhu ruang. Contoh proses sterilisasi adalah produk olahan dalam kaleng seperti kornet, sarden dan sebagainya. Perkembangan teknologi prosesing yang memiliki tujuan mengurangi kerusakan nutrien dan konponen sensoris dan juga mengurangi waktu prosesing menjadikan teknik serilisasi terus dikembangkan. Lamanya waktu sterilisasi yang dibutuhkan bahan dipengaruhi oleh: resistensi mikroorganisme dan enzim terhadap panas, kondisi pemanasan, pH bahan, ukuran wadah atau kemasan yang disterilkan, keadaan fisik bahan  (Machmud, 2008).
Sterilisasidengan udara kering, alat yang umum dikenal adalah oven. Alat ini dipakai untuk mensterilkan alat-alat gelas seperti erlenmeyer, petridish, tabunng reaksi dan alat gelas lainnya. bahan-bahan seperti kapas, kain dan kertas dapat disterilkan dengan alat ini. pada umunhya suhu yang digunakan pada sterilisasi secara kering adalah 170 - 180 C selama palinng sedikit 2 jam. Lama isterilisasi tergantung pada alat dan jumlahnya  (Machmud, 2008).
Sterilisasi dengan uap air panas, bahan yang mengandung cairan tidak dapat didterilkan dengan oven sehingga digunakan alat ini. alat ini disebut Arnold steam sterilizer dengan suhu 1000Cdalam keadaan lembab. Secara sederhana dapat pula digunakan dandang. Mula-mula bahan disterilkan pada suhu 1000C selama 30 menit untuk membunuh sel-sel vegetatif mikrobia. kemudian disimpan pada suhu kamr 24 jam untuk memberi kesempatan spora tumbuh menjadi sel vegetatif, lalu dipanaskan lagi 1000C 30 menit. dan diinkubasi lagi 24 jam dan disterilkan lagi, jadi ada 3 kali sterilisasi. Banyak bakteri berspora belum mati dengan cara ini sehingga dikembangkan cara berikutnya yaitu uap air bertekanan  (Machmud, 2008).
Sterilisasi dengan uap air panas bertekanan, alat ini disebut autoklaf (autoclave) untuk steriliasasi ini alat dilengkapi dengan katup pengaman. Alat diisi dengan air kemudian bahan dimasukkan. Panaskan sampai mendidih dan dari katup pengaman kelaur uap air dengan lancara lalu ditutup. Suhu akan naik sampai 1210C dan biarkan selama 15 menit (untuk industri pengalengan ada perhitungan tersendiri), lalu biarkan dingin sampai tekanan normal dan klep pengaman dibuka, cara ini akan mematikan spora dengan cara penetrasi panas ke dalam sel atau spora sehingga lebih cepat. Cara mana yang dipilih tergantung bahan, biaya dan ketersediaan alat, untuk bahan yang tidak tahan panas, maka cara diatas tidak dapat dipakai (Machmud, 2008).
Sterilisasi yang umum dilakukan dapat berupa:
a. Sterilisasi secara fisik (pemanasan, penggunaan sinar gelombang pendek yang dapat dilakukan selama senyawa kimia yang akan disterilkan tidak akan berubah atau terurai akibat temperatur atau tekanan tinggi). Dengan udara panas, dipergunakan alat “bejana/ruang panas” (oven dengan temperatur 170o – 180oC dan waktu yang digunakan adalah 2 jam yang umumnya untuk peralatan gelas).
b. Sterilisasi secara kimia (misalnya dengan penggunaan disinfektan, larutan alkohol, larutan formalin).
c. Sterilisasi secara mekanik, digunakan untuk beberapa bahan yang akibat pemanasan tinggi atau tekanan tinggi akan mengalami perubahan, misalnya adalah dengan saringan/filter. Sistem kerja filter, seperti pada saringan lain adalah melakukan seleksi terhadap partikel-partikel yang lewat (dalam hal ini adalah mikroba) (Suriawiria, 2005).
Macam-macam sterilisasi
Pada prinsipnya sterilisasi dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu secara mekanik, fisik dan kimiawi.
1. Sterilisai secara mekanik (filtrasi) menggunakan suatu saringan yang berpori sangat kecil (0.22 mikron atau 0.45 mikron) sehingga mikroba tertahan pada saringan tersebut. Proses ini ditujukan untuk sterilisasi bahan yang peka panas, misalnya larutan enzim dan antibiotik.
2. Sterilisasi secara fisik dapat dilakukan dengan pemanasan & penyinaran.
· Pemanasan :
a. Pemijaran (dengan api langsung): membakar alat pada api secara langsung, contoh alat : jarum inokulum, pinset, batang L, dll.
b. Panas kering: sterilisasi dengan oven kira-kira 60-1800C. Sterilisasi panas kering cocok untuk alat yang terbuat dari kaca misalnya erlenmeyer, tabung reaksi dll.
c. Uap air panas: konsep ini mirip dengan mengukus. Bahan yang mengandung air lebih tepat menggungakan metode ini supaya tidak terjadi dehidrasi.
d. Uap air panas bertekanan : menggunalkan autoklaf
· Penyinaran dengan UV
Sinar Ultra Violet juga dapat digunakan untuk proses sterilisasi, misalnya untuk membunuh mikroba yang menempel pada permukaan interior Safety Cabinet dengan disinari lampu UV
3. Sterilisaisi secara kimiawi biasanya menggunakan senyawa desinfektan antara lain alkohol.

Saran-saran kerja aseptis :
1. Sebelum membuka ruangan atau bagian steril di dalam tabung/cawan/erlenmeyer sebaiknya bagian mulut (bagian yang memungkinkan kontaminan masuk) dibakar/dilewatkan api terlebih dahulu.
2. Pinset, batang L, dll dapat disemprot dengan alkohol terlebih dahulu lalu dibakar.
3. Ujung jarum inokulum yang sudah dipijarkan harus ditunggu dingin dahulu atau dapat ditempelkan tutup cawan bagian dalam untuk mempercepat transfer panas yang terjadi.
4. Usahakan bagian alat yang diharapkan dalam kondisi steril didekatkan ke bagian api.
5. Jika kerja di Safety Cabinet tidak perlu memakai pembakar bunsen tetapi jika di luar Safety Cabinet maka semakin banyak sumber api maka semakin terjamin kondisi aseptisnya
Media pertumbuhan mikroorganisme adalah suatu bahan yang terdiri dari campuran zat-zat makanan (nutrisi) yang diperlukan mikroorganisme untuk pertumbuhannya. Mikroorganisme memanfaatkan nutrisi media berupa molekul-molekul kecil yang dirakit untuk menyusun komponen sel. Dengan media pertumbuhan dapat dilakukan isolat mikroorganisme menjadi kultur murni dan juga memanipulasi komposisi media pertumbuhannya    (Machmud, 2008).
Bahan-bahan media pertumbuhan
1. Bahan dasar (Machmud, 2008):
 air (H2O) sebagai pelarut
Agar (dari rumput laut) yang berfungsi untuk pemadat media. Agar sulit didegradasi oleh mikroorganisme pada umumnya dan mencair pada suhu 45 oC.
Gelatin juga memiliki fungsi yang sama seperti agar. Gelatin adalah polimer asam amino yang diproduksi dari kolagen. Kekurangannnya adalah lebih banyak jenis mikroba yang mampu menguraikannya dibanding agar    (Machmud, 2008).
 Silica gel, yaitu bahan yang mengandung natrium silikat. Fungsinya juga sebagai pemadat media. Silica gel khusus digunakan untuk memadatkan media bagi mikroorganisme autotrof obligat.
2. Nutrisi atau zat makanan (Machmud, 2008):
Media harus mengandung unsur-unsur yang diperlukan untuk metabolisme sel yaitu berupa unsur makro seperti C, H, O, N, P; unsur mikro seperti Fe, Mg dan unsur pelikan/trace element.
Sumber karbon dan energi yang dapat diperoleh berupa senyawa organik atau anorganik esuai dengan sifat mikrobanya. Jasad heterotrof memerlukan sumber karbon organik antara lain dari karbohidrat, lemak, protein dan asam organic.
Sumber nitrogen mencakup asam amino, protein atau senyawa bernitrogen lain. Sejumlah mikroba dapat menggunakan sumber N anorganik seperti urea.

3. Bahan tambahan
Bahan-bahan tambahan yaitu bahan yang ditambahkan ke medium dengan tujuan tertentu, misalnya phenol red (indikator asam basa) ditambahkan untuk indikator perubahan pH akibat produksi asam organik hasil metabolisme. Antibiotik ditambahkan untuk menghambat pertumbuhan mikroba non-target/kontaminan    (Machmud, 2008).
4. Bahan yang sering digunakan dalam pembuatan media (Machmud, 2008):
Agar, agar dapat diperoleh dalam bentuk batangan, granula atau bubuk dan terbuat dari beberapa jenis rumput laut. Kegunaannya adalah sebagai pemadat (gelling) yang pertama kali digunakan oleh Fraw & Walther Hesse untuk membuat media. Jika dicampur dengan air dingin, agar tidak akan larut. Untuk melarutkannya harus diasuk dan dipanasi, pencairan dan pemadatan berkali-kali atau sterilisasi yang terlalu lama dapat menurunkan kekuatan agar, terutama pada pH yang asam.
Peptone, peptone adalah produk hidrolisis protein hewani atau nabati seperti otot, liver, darah, susu, casein, lactalbumin, gelatin dan kedelai. Komposisinya tergantung pada bahan asalnya dan bagaimana cara memperolehnya.
Meat extract. Meat extract mengandung basa organik terbuat dari otak, limpa, plasenta dan daging sapi.
Yeast extract. Yeast extract terbuat dari ragi pengembang roti atau pembuat alcohol. Yeast extract mengandung asam amino yang lengkap & vitamin (B complex).
Karbohidrat. Karbohidrat ditambahkan untuk memperkaya pembentukan asam amino dan gas dari karbohidrat. Jenis karbohidrat yang umumnya digunkan dalam amilum, glukosa, fruktosa, galaktosa, sukrosa, manitol, dll. Konsentrasi yang ditambahkan untuk analisis fermentasi adalah 0,5-1%.
Macam-Macam Media Pertumbuhan (Machmud, 2008):
1. Medium berdasarkan sifat fisik
Medium padat yaitu media yang mengandung agar 15% sehingga setelah dingin media menjadi padat   
Medium setengah padat yaitu media yang mengandung agar 0,3-0,4% sehingga menjadi sedikit kenyal, tidak padat, tidak begitu cair. Media semi solid dibuat dengan tujuan supaya pertumbuhan mikroba dapat menyebar ke seluruh media tetapi tidak mengalami percampuran sempurna jika tergoyang. Misalnya bakteri yang tumbuh pada media NfB (Nitrogen free Bromthymol Blue) semisolid akan membentuk cincin hijau kebiruan di bawah permukaan media, jika media ini cair maka cincin ini dapat dengan mudah hancur. Semisolid juga bertujuan untuk mencegah/menekan difusi oksigen, misalnya pada media Nitrate Broth, kondisi anaerob atau sedikit oksigen meningkatkan metabolisme nitrat tetapi bakteri ini juga diharuskan tumbuh merata diseluruh media    (Machmud, 2008).
Medium cair yaitu media yang tidak mengandung agar, contohnya adalah NB (Nutrient Broth), LB (Lactose Broth) (Machmud, 2008).
2. Medium berdasarkan komposisi
Medium sintesis yaitu media yang komposisi zat kimianya diketahui jenis dan takarannya secara pasti, misalnya Glucose Agar, Mac Conkey Agar    (Machmud, 2008).
Medium semi sintesis yaitu media yang sebagian komposisinya diketahui secara pasti, misanya PDA (Potato Dextrose Agar) yang mengandung agar, dekstrosa dan ekstrak kentang. Untuk bahan ekstrak kentang, kita tidak dapat mengetahui secara detail tentang komposisi senyawa penyusunnya    (Machmud, 2008).
Medium non sintesis yaitu media yang dibuat dengan komposisi yang tidak dapat diketahui secara pasti dan biasanya langsung diekstrak dari bahan dasarnya, misalnya Tomato Juice Agar, Brain Heart Infusion Agar, Pancreatic Extract    (Machmud, 2008).
3. Medium berdasarkan tujuan
Media untuk isolasi
Media ini mengandung semua senyawa esensial untuk pertumbuhan mikroba, misalnya Nutrient Broth, Blood Agar  (Machmud, 2008).
Media selektif/penghambat
Media yang selain mengandung nutrisi juga ditambah suatu zat tertentu sehingga media tersebut dapat menekan pertumbuhan mikroba lain dan merangsang pertumbuhan mikroba yang diinginkan. Contohnya adalah Luria Bertani medium yang ditambah Amphisilin untuk merangsang E.coli resisten antibotik dan menghambat kontaminan yang peka, Ampiciline. Salt broth yang ditambah NaCl 4% untuk membunuh Streptococcus agalactiae yang toleran terhadap garam    (Machmud, 2008).
Media diperkaya (enrichment)
Media diperkaya adalah media yang mengandung komponen dasar untuk pertumbuhan mikroba dan ditambah komponen kompleks seperti darah, serum, kuning telur. Media diperkaya juga bersifat selektif untuk mikroba tertentu. Bakteri yang ditumbuhkan dalam media ini tidak hanya membutuhkan nutrisi sederhana untuk berkembang biak, tetapi membutuhkan komponen kompleks, misalnya Blood Tellurite Agar, Bile Agar, Serum Agar, dll    (Machmud, 2008).
Media untuk peremajaan kultur
Media umum atau spesifik yang digunakan untuk peremajaan kultur   (Machmud, 2008).
Media untuk menentukan kebutuhan nutrisi spesifik.
Media ini digunakan unutk mendiagnosis atau menganalisis metabolisme suatu mikroba. Contohnya adalah Koser’s Citrate medium, yang digunakan untuk menguji kemampuan menggunakan asam sitrat sebagai sumber karbon    (Machmud, 2008).

Media untuk karakterisasi bakteri
Media yang digunakan untuk mengetahui kemempuan spesifik suatu mikroba. Kadang-kadang indikator ditambahkan untuk menunjukkan adanya perubahan kimia. Contohnya adalah Nitrate Broth, Lactose Broth, Arginine Agar  (Madigan, 2003).
Media diferensial
Media ini bertujuan untuk mengidentifikasi mikroba dari campurannya berdasar karakter spesifik yang ditunjukkan pada media diferensial, misalnya TSIA (Triple Sugar Iron Agar) yang mampu memilih Enterobacteria berdasarkan bentuk, warna, ukuran koloni dan perubahan warna media di sekeliling koloni  (Machmud, 2008).
Salah satu teknik dasar dalam analisa mikrobiologi adalah teknik transfer aseptis (suatu metode atau teknik di dalam memindahkan atau mentransfer kultur bakteria dari satu tempat ke tempat lain secara aseptis agar tidak terjadi kontaminasi oleh mikroba lain ke dalam kultur). Teknik ini sangat esensial dan kunci keberhasilan prosedur mikrobial yang harus diketahui oleh seorang yang hendak melakukan analisis mikrobiologi. Pengambilan sampel harus dilakukan secara statistik agar tidak bias, jadi secara acak (random sampling). Selain itu, digunakan teknik aseptis selama pengambilan sampel agar tidak terjadi pencemaran. Alat-alat yang digunakan harus steril. Bahan makanan cair diambil dengan pipet steril, makanan padat menggunakan pisau, garpu, sendok atau penjepit yang steril (Rachdie, 2006).
Teknik transfer aseptis adalah suatu metode atau teknik di dalam memindahkan atau mentransfer kultur bakteria dari satu tempat ke tempat lain secara aseptis agar tidak terjadi kontaminasi oleh mikroba lain ke dalam kultur. Teknik transfer aseptis ini sangat esensial dan kunci keberhasilan prosedur mikrobial yang harus diketahui oleh seorang yang hendak melakukan analisis mikrobiologi  (Pelczar, M. J., Chan, 2007).
Ada beberapa aturan yang harus diketahui dan dipenuhi di dalam teknik transfer aseptis ini, sebagaimana terangkum dalam tabel di bawah  (Rachdie, 2006) :
Tabel 1: Aturan Teknik Transfer Aseptis
Sebelum Pelaksanaan :
-          Singkirkan semua barang yang tidak diperlukan dari meja dan ruang kerja
-          Kenakan pakaian atau jas laboratorium yang bersih dan higinis sebelum masuk ke dalam laboratorium
-          Dianjurkan untuk mengenakan masker yang bersih dan higinis
-          Kenakan penutup rambut yang bersih dan higinis
-          Jangan sekali-kali meletakkan tabung dan peralatan laboratorium lainnya di luar laboratorium
Sebelum dan Setelah Pelaksanaan :
-          Cuci tangan anda dengan bersih dan gunakan antiseptis
-          Sanitasi dan desinfeksi ruang kerja (laboratorium dan sekitarnya) dengan desinfektan yang memadai, termasuk Laminar Air Flow dan Inkubator
-          Sterilisasi semua alat dan bahan sebelum digunakan
Ketika Pelaksanaan Kultur :
-          Jangan berbicara
-          Bekerjalah di dekat api (pembakar bunsen) dan di dalam Laminar Air Flow
-          Bukalah tabung atau cawan di atas api dan jauhkan dari hidung dan mulut anda
-          Usahakan jangan meletakkan tutup (kapas penutup) tabung reaksi di atas lantai/alas meja atau laminar
-          Miringkan tutup cawan petri yang akan dibuka sebagai penghalang antara kultur dengan mulut dan hidung anda
-          Jangan buka tutup cawan petri terlalu lebar dan terlalu lama
-          Bekerjalah dengan cepat
Setelah Pelaksanaan :
-          Segera tutup semua tabung atau cawan yang masih terbuka
-          Singkirkan segera semua peralatan atau bahan sisa yang sudah tidak digunakan lagi
-          Bersihkan dan keringkan segera tumpahan-tumpahan media yang ada
-          Sanitasi dan desinfeksi ulang ruang kerja (laboratorium anda)
-          Lepas pakaian kerja dan jas laboratorium anda sebelum meninggalkan ruang kerja anda
 Di dalam teknik transfer aseptis ada beberapa teknik yang perlu difahami, yaitu :
1)    Inoculating (inokulasi) dengan jarum ose
2)    Pipetting (mentransfer dengan pipet)
3)    Alcohol Flamming (mentransfer dengan forsep yang dibakar dengan alkohol)
a) Inoculating dengan jarum ose
a) Bakar jarum ose dari bagian pangkal dalam terus hingga ke bagian lup (ujung) sampai berpijar merah.
b) Biarkan selama beberapa detik sampai pijar menghilang, kemudian segera ambil tabung reaksi yang berisi kultur bakteri, buka penutupnya dengan ketiga jari tengah, manis dan kelingking sedangkan jari telunjuk dan ibu jari memegang  jarum ose.
c) Bakar bibir tabung reaksi dengan cara memutar tabung sehingga semua bagian bibir tabung terkena api.
d) Segera masukkan jarum ose ke dalam tabung reaksi, lalu segera keluarkan. Usahakan ketika memasukkan jarum ose jangan sampai menyentuh dinding tabung dan lakukan di dekat pembakar bunsen.
e) Bakar kembali bibir tabung reaksi dan segera tutup. Ingat, jarum ose jangan dibakar kembali karena akan membunuh bakteri yang akan diinokulasikan.
f) Ambil tabung reaksi lainnya yang akan diinokulasi, buka tutupnya dengan cara yang sama dengan cara (b) dan bakar bibirnya dengan cara yang sama dengan cara©
g) Segera masukkan jarum ose ke dalam tabung tadi sebagaimana cara (d).
h) Bakar bibir tabung reaksi dan tutup sebagaimana cara©.
i) Bakar kembali jarum ose sebagaimana cara (a).
j) Lakukan kembali dengan cara yang sama apabila diperlukan dilusi atau pengenceran.
b) Pipetting
a) Ambil pipet yang telah steril, buka pembungkusnya dan pasang katup karetnya.
b) Bakar ujungnya dibakar atas bunsen selama beberapa detik. Jangan terlalu lama karena dapat merusak ujung pipet.
c) Ambil tabung reaksi yang berisi kultur bakteri, buka penutupnya dengan kedua jari manis dan kelingking sedangkan jari telunjuk, jari tengah dan ibu jari memegang pipet.
e) Segera masukkan pipet ke dalam tabung reaksi, tekan katup karet penghisap tombol [S] (lihat gambar di bawah) lalu segera keluarkan. Usahakan ketika memasukkan pipe t jangan sampai menyentuh dinding tabung dan lakukan di dekat pembakar bunsen.
f) Bakar kembali bibir tabung reaksi dan segera tutup.
g) Ambil tabung reaksi lainnya yang akan diinokulasi, buka tutupnya dengan cara yang sama dengan cara (b) dan bakar bibirnya dengan cara yang sama dengan cara©.
h) Segera masukkan pipet ke dalam tabung tadi, kemudian keluarkan cairan yang telah diinokulasi dari pipet dengan menekan tombol [E].
i) Bakar bibir tabung reaksi dan tutup sebagaimana cara©.
j) Pindahkan pipet dan ganti dengan pipet baru apabila akan melakukan pipetting kembali.
k) Lakukan kembali dengan cara yang sama apabila diperlukan dilusi atau pengenceran.
c) Alcohol Flamming
Biasanya digunakan untuk meletakkan kertas cakram atau instrumen lain ke dalam cawan petri yang berisi media.
a) Ambil forsep, celupkan ujungnya ke dalam alkohol, lalu segera bakar ujungnya di atas bunsen selama beberapa detik secara mendatar. Ingat, jangan miring sebagaimana gambar di bawah.
b) Ambil kertas cakram steril atau instrumen lainnya dengan forsep tadi.
c) Ambil tabung reaksi yang berisi zat antimikrobial, celupkan kertas cakram tadi ke dalam cairan di dalam tabung reaksi.
d) Ambil cawan petri yang telah berisi biakan bakteri di dalam agar, buka penutupnya dengan cara memiringkan beberapa derajat hingga hanya pada satu sisi bagian saja yang terbuka. Ingat jangan terlalu lebar membukanya atau me mbuka seluruh tutupnya dari cawan.
f) Segera masukkan kertas cakram steril atau instrumen lainnya dengan forsep secara hati-hati agar tidak merusak permukaan agar. Lakukan di dekat pembakar bunsen.
g) Segera tutup dan bakar kembali bibir cawan.
h) Lakukan kembali dengan cara yang sama apabila diperlukan.
(Rachdie., 2006)
Teknik aseptik sangat diperlukan untuk menghindarkan mikroorganisme dari kontaminan yang dapat menghambat pertumbuhan mikroba. Teknik aseptis digunakan sepanjang kegiatan berlangsung baik alat, bahan, lingkungan sekitar maupun praktikannya, untuk alat dan bahan praktikum dapat diterapkan metode sterilitas. Penguasaan teknik aseptic ini sangat diperlukan dalam keberhasilan laboratorium mikrobiologi dan hal tersebut merupakan salah satu metode permulaan yang dipelajari oleh ahli mikrobiologi  (Oram, 2001).
Sementara itu menurut Pelczar & Chan (2007) teknik aseptis sangat penting dalam pengerjaan mikrobiologi yang memerlukan ketelitian dan keakuratan disamping kesterilan yang harus selalu dijaga agar terbebas dari kontaminan yang dapat mencemari. Populasi mikroba di alam sekitar kita sangat besar dan komplek. Beratus-ratus spesies berbagai mikroba biasanya menghuni bermacam-macam bagian tubuh kita, termasuk mulut, saluran pencernaan, dan kulit. Sekali bersin terdapat beribu-ribu mikroorganisme sehingga diperlukan teknik yang dapat meminimalisirnya seperti pengisolasian.






BAB III
METODOLOGI

3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum mikrobiologi umum dengan judul “Sterilisasi dan Teknik Aseptis serta Medium Pertumbuhan Mikroba” dilaksanakan pada hari Kamis, tanggal 25 Maret 2010, pukul 13.00-16.35 WIB dan bertempat di Laboratorium Mikrobiologi, Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Brawijaya, Malang.

3.2 Cara Kerja
3.2.1 Sterilisasi dengan Pembakaran
   Lampu Bunsen dinyalakan dan nyala apinya diatur hingga maksimal. Jarum ose diambil dan dilakukan pembakaran dengan api bunsen mulai dari bagian pangkal hingga bagian ujung kawat jarum ose. Pembakaran dilakukan hingga jarum merah membara. Jarum ose yang dibakar dibiarkan beberapa saat hingga dingin. Jarum ose siap digunakan untuk menginokulasi mikroba.
3.2.2 Sterilisasi dengan Panas Kering
   Cawan petri ditangkupkan bagian bawah dan tutupnya. Kemudian cawan dibungkus dengan kertas bungkus dan disusun sebanyak 5-10 buah, serta ditali menggunakan benang kasur. Tabung reaksi yang telah ditutup kapas diambil, kemudian 5-10 tabung diikat menjadi satu, dan dibungkus dengan kertas, serta diikat kembali. Pipet ukur bagian atasnya disumbat dengan kapas (agak longgar), kemudian dibungkus dengan kertas, dan diikat dengan benang kasur.  Semua alat tersebut dimasukkan dalam oven. Oven dinyalakan pada suhu 175°C dan semua alat disterilisasi selama 2 jam. Selanjutnya peralatan didinginkan dan siap digunakan.
3.2.3 Sterilisasi dengan Panas Basah Bertekanan Tinggi (Autoklaf)
   Tabung Reaksi berisi PDA atau NA ditutup dengan kapas, diikat beberapa tabung menjadi satu, dan bagian tutupnya dibungkus dengan kertas payung. Tabung disisakan satu buah untuk tidak disterilkan. Autoklaf diisi dengan aquades sampai batas permukaan air di bawah angsang. Autoklaf disambungkan pada sumber tegangan dan dinyalakan. dimasukkan ke dalam angsang autoklaf. Autoklaf ditutup dan penutupnya dikencangkan. Suhu, tekanan, dan waktu pada autoklaf diatur sesuai dengan keperluan sterilisasi (pada umumnya 121°C, 1 atm, 15 menit). Tanda digital pada autoklaf akan menyala saat sterilisasi dan  akan menunjukkan complete apabila sterilisasi berakhir secara otomatis. Tutup autoklaf dibuka apabila suhu telah turun sekitar 60°C dan tekanan 0. Media yang telah steril diambil, untuk media agar dengan kemiringan 30°, sedangkan media dalam erlemeyer sebelum dituang didinginkan hingga 45° terlebih dahulu.
3.2.4 Pasteurisasi
Bahan yang tidak tahan panas dilakukan pasteurisasi pada suhu 70º-80ºC selama 15- 20 menit
                                                                                       3.2.5  Pembuatan Media Nutrien Cair (NB)
500g daging sapi tanpa lemak dicuci bersih dan dipotong kecil-kecil. Dimasak dalam 1000 ml akuades dan dibiarkan mendidih selama 25 menit. Disaring kaldu yang diperoleh dengan kapas atau kain kasa. Dilarutkan pepton ke dalam air kaldu hingga rata dan diatur media pada pH 7. Dimasukkan media yang telah siap ke dalam tabung reaksi atau Erlenmeyer sesuai penggunaannya. Disumbat dengan kapas tabung dan Erlenmeyer tersebut dan sumbat kapas tidak boleh terlalu padat atau terlalu longgar. Dibungkus  bagian tutupnya dengan kertas dan diikat dengan benang kasur. Disterilisasi dalam Autoklaf dengan suhu 121°C, tekanan 1 atm, selama 15 menit.
3.2.6        Pembuatan Media Agar Nutrient (NA) Konvensional
Air Kaldu 1000 ml dicampur dengan pepton  hingga homogen dan diatur pada pH 7. Ditambah agar dan dipanaskan hingga mendididh, serta diaduk terus menerus hingga semua agar larut. Dimasukkan dalam tabung reaksi. Dikondisikan tegak (10ml) atau miring (4-6ml) dalam tabung reaksi. Disumbat kapas tabung reaksi, dan disterilisasi dalam Autoklaf pada suhu 121°C, tekanan 1 atm, selama 15 menit. Pada agar miring , tabung reaksi dimiringkan hingga agar beku, dan kemiringan diatur dengan batas bawah kemiringan media sekitar 1 cm dari dasar tabung dan tidak melebihi ¾ tinggi tabung reaksi ukuran 15 cm.
3.2.7        Pembuatan Media Agar Nutrient (NA) Instant
23g NA serbuk dilarutkan dalam 1 liter akuades dan didihkan. Kemudian, larutan tersebut dituang dalam tabung reaksi. Selanjutnya dilakukan sterilisasi menggunakan autoklaf.
3.2.8        Pembuatan Media Potato Dextrose Agar (PDA) Konvensional
Kentang 200 g dikupas, dicuci bersih, dan dipotong kecil-kecil. Direbus dalam I L aquades, volume dijaga agar tetap konstan dengan penambahan aquades. Ekstrak kentang disaring dengan kapas dan kertas saring. Diatur pada pH 6-6,5 dan ditambahakan agar  dan dekstrosa. Dipanaskan hingga mendidih dan semua agar larut. Dimasukkan dalam tabung reaksi. Disterilisasi dalam Autoklaf pada suhu 121°C, teksnsn 1 atm, selama 15 menit.
3.2.9        Pembuatan Media Potato Dextrose Agar (PDA) Instant
39g PDA Serbuk dilarutkan dalam 1 liter akuades dan didihkan. Kemudian, larutan tersebut dituang dalam tabung reaksi. Selanjutnya dilakukan sterilisasi menggunakan autoklaf.


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.            Analisis Prosedur
4.1.1.      Pembuatan Media
4.1.1.1.            Media Agar Nutrient ( Nutrien Agar / NA)
Nutrien agar bubuk dilarutkan sebanyak 23 gram dalam 1000 ml akuades, dipanaskan dengan penangas air hingga mendidih, diaduk terus hingga semua larut. Pemanasan dengan penangas air agar serbuk nutrient agar cepat larut dengan adanya panas yang dihasilkan dari penangas dan pengadukan dilakukan agar larutnya serbuk agar merata dan tidak terjadi gumpalan ataupu larutan agar menjadi hangus. Kemudian media dalam keadaan cair dimasukkan tabung reaksi, dibuat media tegak dan miring. Pemasukan agar pada tabung dalam keadaan cair bertujuan agar larutan agar yang dimasukkan belum mulai mengenyal, dapat menempati wadah dan terbentuk agar yang baik. Tabung disumbat dengan kapas, hal ini dilakukan agar media yang di dalam tabung tidak terkontaminasi oleh mikroba. Lalu,  disterilkan dengan autoklaf pada suhu 1210 C, tekanan 1 atm selama 15 menit. Pensterilan media agar ini dilakukan untuk membunuh mikroba yang berpotensi untuk mengkontaminasi. Agar miring, setelah disterilkan dimiringkan hingga beku. Kemiringan diatur dengan batas bawah kemiringan media 1 cm dari dasar tabung dan batas atas tidak lebih dari ¾ tinggi tabung reaksi. Kemiringan diatur untuk mempermudah pengkulturan mikroba, tapi tidak boleh terlalu mendekati mulut tabung untuk meminimalisir kontaminasi mikroba yang tidak diinginkan. Agar siap digunakan.
Metode di atas menggunakan serbuk agar. Untuk pembuatan agar nutrient dengan cara konvensional adalah menambahkan komponen (agar 12g, pepton 5g, ekstrak daging 500 g) ditambahkan pada 1 L akuades, dicampur dengan diaduk dan dipanaskan. pembuatan agar ini dilakukan dengan pH 7,0 ± 0,2 pada 25 ° C. Setelah larut, dimasukkan ke dalam tabung selama cair, disterilkan dengan dimasukkan autoklaf selama 15 menit pada 15 psi dengan suhu 1210C. dituangkan pada cawan petri yang steril.

4.1.1.2  Media Agar Kentang Dekstrosa ( Potato Dextrose Agar / PDA )
Agar kentang dekstrosa bubuk dilarutkan sebanyak 23 gram dalam 1000 ml akuades, dipanaskan dengan penangas air hingga mendidih, diaduk terus hingga semua larut. Pemanasan dengan penangas air agar serbuk agar kentang dekstrosa cepat larut dengan adanya panas yang dihasilkan dari penangas dan pengadukan dilakukan agar larutnya serbuk agar merata dan tidak terjadi gumpalan ataupu larutan agar menjadi hangus. Kemudian media dalam keadaan cair dimasukkan tabung reaksi, dibuat media tegak dan miring. Pemasukan agar pada tabung dalam keadaan cair bertujuan agar larutan agar yang dimasukkan belum mulai mengenyal, dapat menempati wadah dan terbentuk agar yang baik. Tabung disumbat dengan kapas, hal ini dilakukan agar media yang di dalam tabung tidak terkontaminasi oleh mikroba. Lalu,  disterilkan dengan autoklaf pada suhu 1210 C, tekanan 1 atm selama 15 menit. Pensterilan media agar ini dilakukan untuk membunuh mikroba yang berpotensi untuk mengkontaminasi. Agar miring, setelah disterilkan dimiringkan hingga beku. Kemiringan diatur dengan batas bawah kemiringan media 1 cm dari dasar tabung dan batas atas tidak lebih dari ¾ tinggi tabung reaksi. Kemiringan diatur untuk mempermudah pengkulturan mikroba, tapi tidak boleh terlalu mendekati mulut tabung untuk meminimalisir kontaminasi mikroba yang tidak diinginkan. Agar siap digunakan. Metode tersebut menggunakan serbuk agar. Dan untuk pembuatan agar kentang dekstrosa dengan cara konvensional adalah menambahkan komponen (Kentang infusi 4,0g (pemasukan dari 200 g kentang), D (+) glukosa 20.0g, agar-agar 15.0g) ditambahkan pada 1 L akuades, dicampur dengan diaduk dan dipanaskan. pembuatan agar ini dilakukan dengan pH 5.6 ± 0,2 pada 25 ° C. Setelah larut, dimasukkan ke dalam tabung selama cair, disterilkan dengan dimasukkan autoklaf selama 15 menit pada 15 psi dengan suhu 1210C. dituangkan pada cawan petri yang steril.
4.1.2        Sterilisasi
4.1.2.1   Sterilisasi Dengan Filtrasi
Alat filtrasi dan botol filtrasi disterilkan terlebih dahulu dan kemudian rangkai dengan pompa vakum, agar alat dapat digunakan. Selanjutnya membran filter diletakkan secara aseptis dengan menggunakan pinset steril pada dasar penopang filter. Bahan yang difiltrasi dituang, kemudian pompa vakum dihidupkan. Selanjutnya filter yang telah tertampung di dalam botol penampung siap digunakan untuk perlakuan selanjutnya. Sterilisai dengan filtrasi menggunakan suatu saringan yang berpori sangat kecil (0.22 mikron atau 0.45 mikron) sehingga mikroba tertahan pada saringan tersebut. Proses ini ditujukan untuk sterilisasi bahan yang peka panas, misal nya larutan enzim dan antibiotic (Indra, 2008).
4.1.2.2   Sterilisasi Dengan Pembakaran
Lampu Bunsen dinyalakan dan diatur nyala apinya secara maksimal, kemudian dilakukan pembakaran pada jarum ose dari bagian pangkal menuju ujung kawat jarum ose (pembakaran dilakukan hingga kawat merah membara), agar panas pada ujung jarum ose terjadi secara kontinu. Selanjutnya jarum ose dibiarkan dingin dan siap digunakan untuk mengambil/menginokulasi mikrobia, agar saat mengambil mikroba, mikroba tidak mati. Sterilisasi dengan lampu bunsen merupakan pem,bakaran secara langsung menggunakan api (Indra, 2008).
4.1.2.3  Sterilisasi Dengan Panas Kering
Cawan petri bagian bawah dan tutupnya ditangkupkan, kemudian bungkus dengan kertas bungkus dan susun cawan petri (5-10 buah) dan ditali dengan benang kasur, agar saat pengaturan lebih mudah. Tabung reaksi diambil dan masing-masing ditutup dengan kapas, beberapa tabung (5-10 buah) diikat menjadi satu dan dibungkus kertas yang kemudian diikat dengan benang kasur. Semua alat dimasukkan ke dalam oven, oven dinyalakan pada suhu 175°C (agar peralatan benar-benar menjadi steril) dan setelah suhu tercapai, sterilisasi dilakukan selama 2 jam. Setelah sterilisasi selesai peralatan didinginkan dan pada hari berikutnya peralatan dapat digunakan. Sterilisasi dengan oven dilakukan kira-kira 60-1800C, sterilisasi panas kering ini digunakan untuk alat yang terbuat dari kaca (Indra, 2008).
4.1.2.4  Sterilisasi Dengan Panas Basah Bertekanan Tinggi (autoklaf)
Tutup tabung reaksi yang berisi media PDA atau NA dengan kapas, beberapa tabung diikat menjadi satu dan bagian tutupnya dibungkus dengan kertas paying (agar mudah dalam penataannya), sisakan satu tabung berisi media namun tidak disterilkan. Autoklaf diisi dengan akuades sampai permukaan air dibawah ansang/keranjang autoklaf dan sambungkan autoklaf dengan sumber listrik dan nyalakan autoklaf. Tabung reaksi berisi media dimasukkan ke dalam ansang/keranjang autoklaf, kemudian tutup autoklaf dan kencangkan penutupnya dengan kuat. Suhu, tekanan dan waktu yang diperlukan untuk sterilisasi diatur, umumnya 127°C, 1 atm selama 15 menit. Tanda digital pada autoklaf menunjukkan proses selama sterilisasi berlangsung dan akan berakhir secara otomatis. Saat akan membuka tutup autoklaf, pastikan suhu telah turun sekitar 60°C dan tekanan sudah nol, agar saat pengambilan, peralatan telah benar-benar siap untuk di ambil. Tutup autoklaf dibuka dan ambil media yang telah disterilkan, untuk media agar miring memerlukan serbet sebagai alasnya dan miringkan tabung hingga 30° dan untuk Erlenmeyer, sebelum dituang, ditunggu hingga suhu menjadi 45°C. Sterilisasi dengan menggunakan autoklaf merupakan sterilisasi menggunakan uap air panas bertekanan (Indra, 2008).

4.1.2.5  Pasteurisasi
Dilakukan untuk bahan-bahan tidak tahan panas dan dapat mengalami kerusakan pada suhu tinggi. Pasteurisasi dilakukan pada suhu 70-80°C selama 15-20 menit. Pasteurisasi ini akan berakibat buruk (rusak) untuk medium atau bahan yang tidak tahan panas (Indra, 2008).

4.2 Analisis Hasil
Sterilisasi dan teknik aseptis sangat penting dalam pengerjaan mikrobiologi yang memerlukan ketelitian dan keakuratan disamping kesterilan yang harus selalu dijaga agar terbebas dari kontaminan yang dapat mencemari. Populasi mikroba di alam sekitar kita sangat besar dan komplek. Beratus-ratus spesies berbagai mikroba biasanya menghuni bermacam-macam bagian tubuh kita, termasuk mulut, saluran pencernaan, dan kulit. Sekali bersin terdapat beribu-ribu mikroorganisme sehingga diperlukan teknik yang dapat meminimalisirnya seperti pengisolasian (Pelczar, M. J., Chan, 2007).
Kegunaan dari nutrient agar adalah untuk kultivasi dan perawatan sebagian besar dari mikroorganisme. Komposisi dari nutrient agar adalah agar sebanyak 15 gram, pepton sebanyak 5 gram, NaCl sebanyak 5 gram, ekstrak yeast sebanyak 2 gram dan ekstrak kaldu sebanyak 1 gram. Potato dextrose agar adalah untuk kultivasi dan perawatan sebagian besar dari jamur. Komposisi dari potato dextrose agar adalah kentang sebanyak 300 gram, glukosa sebanyak 20 gram dan agar sebanyak 15 gram. Kegunaan dari Yeast Malt Extract Agar (YMEA) adalah untuk kultivasi dari jamur, termasuk yeast dan mikroorganisme dari aciduric, seperti spesies Actinoplanes, spesies Streptomyces, spesies Streptoverticillium dan spesies Nocardia. Komposisi dari Yeast Malt Extract Agar (YMEA) adalah agar sebanyak 20 gram, glukosa sebanyak 10 gram, peptone sebanyak 5 gram, ekstrak yeast sebanyak 3 gram dan ekstrak malt sebanyak 3 gram. Sedangkan garam fisiologi digunakan untuk menjaga fungsi fisiologis dari media agar bakteri yang ingin dibiakkan tidak rusak dan terjaga kondisinya. Pembuatan garam fisiologi dengan melarutkan NaCl ke aquades dan diaduk merata tanpa direbus (Atlas, 1946).
Nutrisi yang diperlukan oleh bakteri, kapang atau yeast adalah unsur-unsur berupa unsur makro seperti C, H, O, N, P; unsur mikro seperti Fe, Mg, Ca, Na, S, K dan unsur pelikan/trace element. Sumber karbon dan energi yang dapat diperoleh berupa senyawa organik atau anorganik sesuai dengan sifat mikrobanya. Jasad heterotrof memerlukan sumber karbon organik antara lain dari karbohidrat, lemak, protein, asam organik dan vitamin. Sumber nitrogen mencakup asam amino, protein atau senyawa bernitrogen lain. Sejumlah mikroba bahkan dapat menggunakan sumber N anorganik seperti urea untuk metabolismenya (Indra, 2008).


BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Sterilisasi dengan penyaringan dilakukan untuk mensterilisasi cairan yagn mudah rusak jika terkena panas atu mudah menguap (volatile). Teknik aseptis pengerjaan mikrobiologi yang memerlukan ketelitian dan keakuratan disamping kesterilan yang harus selalu dijaga agar terbebas dari kontaminan yang dapat mencemari. Sedangkan, keduanya diperlukan untuk ketelitian , keakuratan dan kesterilan dari kontaminan dari suatu perlakuan. Media pertumbuhan mikroorganisme adalah suatu bahan yang terdiri dari campuran zat-zat makanan (nutrisi) yang diperlukan mikroorganisme untuk pertumbuhannya. Macam-macam media berdasarkan sifat fisik dibagi tiga, yaitu medium padat, setengah padat dan cair. Menurut komposisinya dibagi menjadi tiga, yaitu medium sintesis, semi sintesis  dan non sintesis. Menurut tujuannya dibagi menjadi tujuh, yaitu media untuk isolasi, media penghambat, media diperkaya, media untuk peremajaan kultur, media untuk menentukan kebutuhan nutrisi spesifik, media untuk karakterisasi bakteri dan media diferensial. Nutrisi yang diperlukan oleh mikroorganisme adalah unsur-unsur berupa unsur makro seperti C, H, O, N, P; unsur mikro seperti Fe, Mg, Ca, Na, S, K dan unsur pelikan/trace element. Sumber karbon berupa senyawa organik atau, lemak, protein, asam organik dan vitamin.

5.2 Saran
Hendaknya para praktikan sangat berhati-hati dalam melakukan sterilisasi, teknik aseptis dan cara pembuatan media pertumbuhan mikroba agar tidak terjadi kontaminasi. Sebaiknya para praktikan memakai masker untuk meminimalisir terjadinya kontaminasi.



DAFTAR PUSTAKA

Atlas,R.M.1946.Handbook Of Microbiological Media 3th Edition.CRC Press: Amerika
Curtis, Helena, Barnes, N. Sue. 1999. Biology 5th edition. Worth Publisher Inc. New York
Indra.2008.Media Pertumbuhan. http://ekmonsaurus.com/data/media.PDF. Diakses pada tanggal 8 April 2010
Machmud, M. 2008. Teknik Penyimpanan dan Pemeliharaan Mikroba. Balai Penelitian Bioteknologi Tanaman Pangan, Bogor. http://anekaplanta.wordpress.com/2008 /03/02/teknik-penyimpanan-dan-pemeliharaan-mikroba/. Diakses pada tanggal 8 April 2010
Madigan, M.T.2003.Brock Biology Of Microorganism. Pearson Education, Inc: Amerika
Oram, R.F. S., Paul. J. Hummer, Jr.2001. Biology Living System. Glencoe Division Mc Millan Company. Waterville.
Pelczar, M. J., Chan, E.C.S. 2007. Elements of Microbiology. Mc Graw Hill Book Company. New York.
Rachdie. 2006. Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Mikroba. http://rachdie .blogsome.com/2006/10/14/faktor-yang-mempengaruhi-pertumbuhan-mikroba/. Diakses pada tanggal 8 April 2010


 Jawab pertanyaan:
(sterilisasi, teknik aseptis)
  1. Agar bakteri dapat tersaring dan tidak ikut terbuang.
  2. Agar sisa-sisa mikroba dapat terbakar semua (jarum ose menjadi benar-benar steril).
  3. Karena pada oven selain melakukan sterilisasi juga melakukan pengeringan setelah peralatan dimasukkan di autoklaf.
  4. Karena pada pasteurisasi akan dilakukan untuk bahan-bahan tidak tahan panas dan dapat mengalami kerusakan pada suhu tinggi.

(media pertumbuhan mikroba)
  1. Agar media yang akan dihasilkan benar-benar memiliki kepadatan yang tepat untuk suatu mikroorganisme (tidak terlalu padat atau encer).
  2. Karena jika tidak sesuai, saat memiringkannya media akan terlalu dekat dengan jauh atau dekat dengan tepi tabung.
  3. Agar jamur yang terdapat dalam media PDA tersebut dapat terjaga kelembapannya dan lingkungan yang sesuainya.
  4. a.untuk membuat media nutrient cair
b.untuk komposisi pembuatan media dari media agar nutrient dan media nutrient cair.
c.untuk komposisi pembuatan media PDA.
d.untuk komposisi utama pembuatan media agar.
e.digunakan sebagai pelarut untuk pembuatan media.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar